Agama dan spiritualitas. Dogma, aturan-aturan yang membuat
umatnya mengerjakan suatu pembaktian. Esensi penuh interpretasi yang sering
kita malah lupakan esensinya karena tertiban dan tersamarkan oleh dogma-dogma
tersebut.
Bahwa ‘Tuhan’ lebih dari sekedar poin-poin ‘punishment’ dan
‘reward’ yang menjanjikan kita sebuah tempat dimana semua keindahan
bermanifestasi dengan kekal dan memperingatkan kita agar tak terjatuh dalam
lubang penuh penyiksaan. Surga dan Neraka.
Dan itulah yang semalaman mereka bertiga lakukan. Tiga
pemuda ingusan, produk pemikiran dan pembodohan transisioner global, berbincang
tentang hal-hal yang tidak akan ada habisnya. Mereka yang merasa bahwa hal-hal
tersebut pasti lebih dari apa yang sekedar terlihat atau terucap —bahwa ada
sesuatu yang 'lebih' dari sekedar permukaannya dan kebanyakan dari kita tak mampu untuk menggapai nalar
itu. Mereka bertigapun sepakat, bahwa manusia tidak boleh berhenti untuk
memutar nalarnya pada dogma, namun bukan berarti memusuhi dan juga memakan
mentah-mentah antitesis dari dogma tersebut. Karena apa gunanya melawan
kefanatikan dengan kefanatikan? Bahwa kita tidak bisa berhenti dan harus terus
mencari. Karena berhenti mencari mungkin memudahkan kita untuk menjadi congkak
dan lancang.
Perbincanganpun sampai di titik dimana malam Lailatul Qadar
sudah bisa dideteksi oleh NASA. Dimana benda-benda luar angkasa yang bergerak
di semesta kita berhenti untuk sepersekian detik!
(Dan bukankah fakta bahwa kurang-lebih semua benda yang
ada di semesta ini bergerak sangatlah mengagumkan? Bayangkan kalau kita bisa zoom
out pandangan kita dengan sebuah kamera omni-potent—dari yang sekecil atom sampai seluas luar
angkasa dan galaksi-galaksinya bisa kita pantau dan kita bisa melihat bahwa
SEMUANYA bergerak di momen ini juga, in some sense).
Lagi, mereka bertiga sepakat bahwa esensinya bukanlah pada
bagaimana ayat yang menjelaskan malam istimewa tersebut bisa dibuktikan dengan
nalar sains. Ataupun bukan usaha-usaha untuk meraihnya itu yang seperti sembahyang keras dalam mendapatkan poin-poin ekstra di mata Yang Maha Kuasa.
Ada sesuatu yang lebih bermakna dan tersirat yang mungkin
hanya kearifan pribadi yang mampu menyuratkannya.
Jam menunjukan pukul 02.43 dan saat itu adalah dua malam
sebelum malam takbiran. Kesepakatan terakhir merekapun terputuskan: sebaiknya
cepat pulang untuk sahur bersama keluarga sebelum ditendang keluar dari rumah
sebagai anak-anak yang sesat.