Friday, August 9, 2013

1.


Agama dan spiritualitas. Dogma, aturan-aturan yang membuat umatnya mengerjakan suatu pembaktian. Esensi penuh interpretasi yang sering kita malah lupakan esensinya karena tertiban dan tersamarkan oleh dogma-dogma tersebut.
Bahwa ‘Tuhan’ lebih dari sekedar poin-poin ‘punishment’ dan ‘reward’ yang menjanjikan kita sebuah tempat dimana semua keindahan bermanifestasi dengan kekal dan memperingatkan kita agar tak terjatuh dalam lubang penuh penyiksaan. Surga dan Neraka.

Dan itulah yang semalaman mereka bertiga lakukan. Tiga pemuda ingusan, produk pemikiran dan pembodohan transisioner global, berbincang tentang hal-hal yang tidak akan ada habisnya. Mereka yang merasa bahwa hal-hal tersebut pasti lebih dari apa yang sekedar terlihat atau terucap —bahwa ada sesuatu yang 'lebih' dari sekedar permukaannya dan kebanyakan dari kita tak mampu untuk menggapai nalar itu. Mereka bertigapun sepakat, bahwa manusia tidak boleh berhenti untuk memutar nalarnya pada dogma, namun bukan berarti memusuhi dan juga memakan mentah-mentah antitesis dari dogma tersebut. Karena apa gunanya melawan kefanatikan dengan kefanatikan? Bahwa kita tidak bisa berhenti dan harus terus mencari. Karena berhenti mencari mungkin memudahkan kita untuk menjadi congkak dan lancang.

Perbincanganpun sampai di titik dimana malam Lailatul Qadar sudah bisa dideteksi oleh NASA. Dimana benda-benda luar angkasa yang bergerak di semesta kita berhenti untuk sepersekian detik!

(Dan bukankah fakta bahwa kurang-lebih semua benda yang ada di semesta ini bergerak sangatlah mengagumkan? Bayangkan kalau kita bisa zoom out pandangan kita dengan sebuah kamera omni-potent—dari yang sekecil atom sampai seluas luar angkasa dan galaksi-galaksinya bisa kita pantau dan kita bisa melihat bahwa SEMUANYA bergerak di momen ini juga, in some sense).

Lagi, mereka bertiga sepakat bahwa esensinya bukanlah pada bagaimana ayat yang menjelaskan malam istimewa tersebut bisa dibuktikan dengan nalar sains. Ataupun bukan usaha-usaha untuk meraihnya itu yang seperti sembahyang keras dalam mendapatkan poin-poin ekstra di mata Yang Maha Kuasa.

Ada sesuatu yang lebih bermakna dan tersirat yang mungkin hanya kearifan pribadi yang mampu menyuratkannya.

Jam menunjukan pukul 02.43 dan saat itu adalah dua malam sebelum malam takbiran. Kesepakatan terakhir merekapun terputuskan: sebaiknya cepat pulang untuk sahur bersama keluarga sebelum ditendang keluar dari rumah sebagai anak-anak yang sesat.

Thursday, August 8, 2013

TIME TRAVEL CAFE


"Don’t you think it’s possible that coffee shops could be some kind of a time travel machine? And the sudden rain that fell outside might just be another time vortex or portal that slows the flow of time outside that coffee shop. Thus makes another reason for you to stay and linger on that intimate small round table for two.”

                                    ..tulisan disebuah kertas pamflet kecil yang terlipat-lipat kusut yang ditemukan di dalam tong sampah