Permasalahan di dunia memuncak ketika efek terburuk dari perubahan iklim kini tak terhindarkan lagi.
Gaia, mother earth, atau ibu
pertiwi kini seperti mengalami sindrom pra-menstruasi yang tak henti-henti
—kekacauan lingkungan di seluruh pelosok bumi.
Sekarang sudah diresmikan kalau tidak
ada lagi perbedaan antara ‘kekacauan lingkungan’ dan ‘kekacauan sosial’.
7000
pulau-pulau kecil—termasuk beberapa kerajaan atau negara kepulauan di
pasifik—telah lenyap
Jepang kini kelebihan suplai sushi dan kekurangan pelawak
berdialek Kansai—kini mereka juga menutup Disney Land dan membuka Disney Sea 24
jam
Hujan asam melelehkan dress yang dipakai patung liberty dan memicu protes
keras melalui hashtag dari sebuah Fron pembalut kepala di Jakarta
Tawuran
menjamur di seluruh dunia akibat migrasi-migrasi yang tak terelakkan—beberapa
minggu lalu beberapa fans berat Boko Haram berbaku hantam dengan
hooligans—beberapa minggu sebelumnya lagi, dikabarkan ada desas-desus
penyerangan kultus Neo-ateis pengikut Dawkins terhadap komunitas peranakan
Maoist-Rastafarian di sebuah rumah yang menjadi markas tongkrongan komunitas
tersebut di Brussel, Belgia. Beberapa saksi menyatakan mereka melihat “asap
tebal mengebul dari rumah di sebelah pangkalan ojek Tesla Motors” tersebut dan
terdengar suara “Yaamaan…yaamaaan,” teriakan bersentimen nasionalis yang
mengelu-elukan sisa dari negara Yemen secara berulang-ulang.
Bukannya tidak ada usaha dalam pencarian
solusi dari masalah-masalah yang bermula dari masalah lingkungan tersebut—yang
pastinya tidak ada sejak dulu adalah usaha pencegahannya.
Pemimpin-pemimpin
dunia telah melakukan banyak pertemuan untuk mendiskusikan lanjut permasalahan
dunia dan meng-upload rekamannya ke media sosial dan mendapatkan ribuan ‘loves’
pada akun soundcloud dan instagram Persatuan Negara-Negara (PNN). Monte Pitton,
salah satu sekjen dewan perdamaian PNN menyatakan dalam pidatonya tujuh tahun
yang lalu, “Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?
Jangan tanya apa yang sudah bumi lakukan kepada kita—tanyalah apa yang sudah
kita lakukan demi bumi!”
Solusi pun datang dari seorang ilmuwan bernama Rai Shreshta dari Nepal. Ia menciptakan sebuah mesin yang bisa mengakhiri semua krisis energi yang ada di bumi.
Sayangnya Ia menghilang lima tahun lalu sebelum sempat
menyelesaikan mahakarya nya tersebut.
PNN pun mengambil alih proyek milik Shreshta dan meluncurkan
aksi perdana dari mesin tersebut sekitaran akhir tahun lalu.
Mesin tersebut sangat masif dalam ukuran dan kerjanya; Ia
mampu menghasilkan energi sebesar yang diperlukan untuk mengisi seluruh bumi
dan kita tak akan lagi bergantung pada sumber-sumber energi yang selalu kita
pakai selama ini.
Seluruh dunia bersorak saat mereka menonton peluncuran mesin
tersebut yang disiarkan melalui segala macam media.
Yang mereka tak tahu adalah mesin tersebut membutuhkan
energi yang sama besarnya untuk beroperasi—dan mesin itu cukup pintar untuk
bergerak sendiri dan mengkonsumsi energi masif yang Ia kumpulkan sendiri tadi itu.
Jadi, tak bisa dibilang salah juga kalau yang seluruh dunia
nanti-nantikan tersebut, adalah sebuah performance art dari sebuah mesin yang
menghasilkan energi berjumlah sangat besar—yang kemudian melahapnya sendiri
lagi untuk mengisi perutnya.
Untungnya tak ada kritikus seni yang menyebut kejadian
tersebut sebagai banalitas seni paska-paskamodern.
