Monday, June 15, 2015

20XX






Permasalahan di dunia memuncak ketika efek terburuk dari perubahan iklim kini tak terhindarkan lagi. 

Gaia, mother earth, atau ibu pertiwi kini seperti mengalami sindrom pra-menstruasi yang tak henti-henti 

—kekacauan lingkungan di seluruh pelosok bumi. 

Sekarang sudah diresmikan kalau tidak ada lagi perbedaan antara ‘kekacauan lingkungan’ dan ‘kekacauan sosial’. 

7000 pulau-pulau kecil—termasuk beberapa kerajaan atau negara kepulauan di pasifik—telah lenyap

Jepang kini kelebihan suplai sushi dan kekurangan pelawak berdialek Kansai—kini mereka juga menutup Disney Land dan membuka Disney Sea 24 jam 

Hujan asam melelehkan dress yang dipakai patung liberty dan memicu protes keras melalui hashtag dari sebuah Fron pembalut kepala di Jakarta 

Tawuran menjamur di seluruh dunia akibat migrasi-migrasi yang tak terelakkan—beberapa minggu lalu beberapa fans berat Boko Haram berbaku hantam dengan hooligans—beberapa minggu sebelumnya lagi, dikabarkan ada desas-desus penyerangan kultus Neo-ateis pengikut Dawkins terhadap komunitas peranakan Maoist-Rastafarian di sebuah rumah yang menjadi markas tongkrongan komunitas tersebut di Brussel, Belgia. Beberapa saksi menyatakan mereka melihat “asap tebal mengebul dari rumah di sebelah pangkalan ojek Tesla Motors” tersebut dan terdengar suara “Yaamaan…yaamaaan,” teriakan bersentimen nasionalis yang mengelu-elukan sisa dari negara Yemen secara berulang-ulang.

Bukannya tidak ada usaha dalam pencarian solusi dari masalah-masalah yang bermula dari masalah lingkungan tersebut—yang pastinya tidak ada sejak dulu adalah usaha pencegahannya. 
Pemimpin-pemimpin dunia telah melakukan banyak pertemuan untuk mendiskusikan lanjut permasalahan dunia dan meng-upload rekamannya ke media sosial dan mendapatkan ribuan ‘loves’ pada akun soundcloud dan instagram Persatuan Negara-Negara (PNN). Monte Pitton, salah satu sekjen dewan perdamaian PNN menyatakan dalam pidatonya tujuh tahun yang lalu, “Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi? Jangan tanya apa yang sudah bumi lakukan kepada kita—tanyalah apa yang sudah kita lakukan demi bumi!”

Solusi pun datang dari seorang ilmuwan bernama Rai Shreshta dari Nepal. Ia menciptakan sebuah mesin yang bisa mengakhiri semua krisis energi yang ada di bumi.

Sayangnya Ia menghilang lima tahun lalu sebelum sempat menyelesaikan mahakarya nya tersebut.

PNN pun mengambil alih proyek milik Shreshta dan meluncurkan aksi perdana dari mesin tersebut sekitaran akhir tahun lalu.

Mesin tersebut sangat masif dalam ukuran dan kerjanya; Ia mampu menghasilkan energi sebesar yang diperlukan untuk mengisi seluruh bumi dan kita tak akan lagi bergantung pada sumber-sumber energi yang selalu kita pakai selama ini.

Seluruh dunia bersorak saat mereka menonton peluncuran mesin tersebut yang disiarkan melalui segala macam media.

Yang mereka tak tahu adalah mesin tersebut membutuhkan energi yang sama besarnya untuk beroperasi—dan mesin itu cukup pintar untuk bergerak sendiri dan mengkonsumsi energi masif yang Ia kumpulkan sendiri tadi itu.

Jadi, tak bisa dibilang salah juga kalau yang seluruh dunia nanti-nantikan tersebut, adalah sebuah performance art dari sebuah mesin yang menghasilkan energi berjumlah sangat besar—yang kemudian melahapnya sendiri lagi untuk mengisi perutnya.

Untungnya tak ada kritikus seni yang menyebut kejadian tersebut sebagai banalitas seni paska-paskamodern.